bolu jahe, ide curian dari rumahkayu


masukdapur: sebuah cerita (semi) fiksi

Tercium aroma jahe dan gula aren rebus dari tetangga sebelah. Ah, pikir saya, mba Dee pasti sedang tak enak badan. Setahu saya, jahe rebus adalah obat faforitnya jika ia sedang tidak fit.

Hari ini mas Kuti, suami mba Dee,  sepertinya sedang di rumah. Jika ia ada di rumah, saya sebenarnya agak sungkan berkunjung walau tak jarang juga saya bertamu dan mendengarkan ceritanya tentang banyak hal.

Tetapi jika ia mulai bercerita tentang perselingkuhan, saya akan undur diri dan pura-pura masih ada kerjaan yang belum beres di rumah. Eh, kecuali sewaktu ia bercerita tentang Selingkuh a la Ayam Goreng. Saya terbahak.

Kawannya, ia bercerita, pernah ‘bermain’ dengan seorang wanita dengan alasan bosan dengan istri di rumah dan perlu variasi. “Kalau makan ayam goreng setiap hari pasti bosan  ..,” kata temannya menganalogikan keadaan.

Mas Kuti berkata, “Kalau bosan dengan ayam goreng jangan ayamnya yang diganti tetapi menunya”.

Saya tertawa dan mengangguk semangat. Cerita dan ide yang menarik.

*

Selalu ada cerita dan ide menarik yang diceritakan mba Dee dan mas Kuti. Walau kadang saya malah hanya diam bengong sementara mereka berdebat seru tentang sesuatu hal. Ujung-ujungnya mereka pasti bertanya “Gimana menurut kamu, hes?” Halah.

Rumah mereka berdinding kayu dengan halaman yang asri. Saya yang selalu suka pada arsitektur sebuah rumah yang unik lansung tertarik. Tetapi saat itu saya belum mengenal penghuni rumah kayu.

Saya tak ingat bagaimana kemudian saya mampir dan berkenalan dengan keluarga di rumah tersebut. Awal perkenalannya seingat saya memang menyenangkan.

Saya bertamu dan mengobrol. Mereka ramah dan antusias. Pasangan yang pandai dan suka berdiskusi.

Setelah perkenalan itu sebenarnya saya jarang berkunjung. Sesekali mampir untuk berkumpul dengan teman-teman dan mengobrol panjang lebar walau saya lebih banyak diam (antara ngga mengerti atau sungkan mengajukan komentar). Topiknya biasanya berasal dari suami istri yang romantis ini.

Mba dee dan suaminya memang romantis. Saya pikir, ah pasangan yang baru menikah selalu romantis. Walau setelah beberapa lama saya amati, keromantisan mereka tidak berubah 😉

Saya jarang berkunjung ke rumah kayu. Saya lebih sering menemui mba Dee di ‘studio’ pribadinya di antara daunilalang. Tempat mba Dee berkreasi dengan kata.

Saya cukup sering membaca puisinya di sana. Terkadang ikut menulis satu dua patah kata mencoba menandingi atau mengomentari puisi-puisinya mba Dee. Mencoba memaksa sifat romantis saya untuk muncul. Haha.

Setelah itu kita memang sering saling bercerita. Tidak cuma tentang puisi tetapi juga tentang masa kecil dan keluarga. Sejak saat itu, saya cukup sering bertamu di rumah kayu.

*

Sejak sering berkunjung ke rumah kayulah saya baru tahu kalau si kecil Pradipta yang pintar dan kritis bukan anak kandung mereka. Mba Dee dan mas Kuti berjuang untuk memperoleh hak adopsinya Pradipta dan mereka berhasil mendapatkannya tepat pada perayaan 6 bulan pernikahan mereka.

Anak kandung atau anak angkat, saya rasa mba Dee ngga peduli. Saya bisa lihat ia sangat menyayangi si kecil dengan sepenuh hatinya.

Saya ingat sewaktu saya mampir bertamu (dan seperti biasa tanpa membawa buah tangan hehe). Pradipta bercerita tentang ulang tahun temannya. Ia bersemangat dan gembira sewaktu menunjukkan peluit hadiah permainan harta karun saat acara tersebut.

Sewaktu si kecil bercerita, mba Dee memandangnya dengan perasaan sayang.

Mba Dee juga sering berbagi tips dan trik tentang banyak hal. Tentang tanaman terutama karena ia hobi berkebun. Tetapi sekali waktu ia juga berbagi resep di dapur.

Ia memberitahu saya suatu hari tentang resep tumis daun dan bunga pepaya. Bahannya diambilnya dari halaman rumah kayu tentu saja. Saat itu ia baru pulih dari sakit. Tumisan adalah masakan yang  mudah dan cepat, pikirnya.

Ah, mba Dee tidak tahu, saya sudah punya resep andalan sendiri untuk tumis bunga pepaya 😉 Tetapi toh saya tetap mendengarkan karena ia pasti punya trik untuk menghilangkan pahit daun pepaya yang tak terlalu saya suka. Benar saja.

Garam ditambahkan saat merebus daun pepaya setelah matang daun diperas sehingga keluar airnya sehingga daun akan berkurang pahitnya. Ohh ..

*

Aroma jahe dari rumah kayu mulai berkurang. Saya jadi teringat sesuatu. Saya beranjak keluar rumah dan menuju rumah kayu.

Saya mengetuk perlahan pintu depan rumah kayu. Wangi bunga menyebar di udara. Ahh, pikir saya, bunga kenanganya mba Dee pasti sedang berbunga.

Pintu terbuka dan Mas Kuti keluar. “Oh hes, mencari Dee?” Tanyanya pasti.

“Iya, Mas. Mba D sedang sibuk tidak?”

“Kayanya ngga tuh. Dia sedang berhenti berpikir,” jawab Mas Kuti sambil tersenyum, “Masuk, hes”.

Berhenti berpikir? Ide ajaib apa lagi itu, pikir saya. Saya ikut tersenyum, “Ngga, Mas. Diluar saja. Sebentar kok”.

Mas Kuti masuk memanggil istrinya. Mba Dee keluar. Ia menyapa saya.

Mba D, aku mau merepotkan ya. Mau pinjam jahe sama gula aren kalau masih punya,” kata saya tanpa basa basi :mrgreen:

Mba Dee tertawa walau agak heran, “Mau bikin jahe rebus juga?” Tanyanya.

Haha. Ngga. Punya ide tapi entar aja kalau jadi, diantar sore ya,” jawab saya.

Mba Dee pergi dan keluar lagi membawa bungkusan. “Mau bikin apa sih?”

Saya tersenyum, “Mau mewujudkan ide ajaib mba D tentang jahe rebus dan berhenti berpikir,” kata saya.

Mba Dee tertawa-tawa. Mba Dee memang tak pernah memaksa jika saya belum mau bercerita. “Oia hes. Buku nanti dikirim akhir minggu ini ya”.

“Oke. Makasih ya, Mba D”.

Sambil membawa bungkusan jahe dan gula aren, saya berjalan pulang dan mulai menakar dalam pikiran saya.

*

Bolu Jahe

bolujahe

Bahan:

  • 100 gr gula aren yang sudah disisir
  • 5 butir telur ayam
  • 1/2 sdt garam
  • 1 buah jahe ukuran sedang, kupas kulit, parut
  • 150 gr tepung terigu
  • 2 sdt bubuk kayu manis
  • Margarin untuk mengoles loyang

Cara membuat:

  1. Kocok dengan kecepatan maksimum sekitar 10 menit gula aren, telur dan garam, kocok hingga mengembang
  2. Pindahkan kocokan mixer ke kecepatan minimum, tambahkan parutan jahe, kocok hingga rata
  3. Matikan mixer
  4. Masukkan terigu yang sudah dicampur dengan bubuk kayu manis sedikit demi sedikit sambil diaduk rata
  5. Panaskan dandang
  6. Tuang adonan ke loyang yang sudah diolesi margarin
  7. Kukus selama kurang lebih setengah jam atau hingga matang

*

Saya maklum pada ide ajaib mba Dee tentang berhenti berpikir. Suami istri di rumah kayu ini sedang sibuk menyusun buku yang mereka tulis berdua tentang kehidupan rumah tangga.

Bukan hanya menulis dan menyusun, mereka bahkan menerbitkan sendiri buku pertama mereka tersebut. Tentu saja karena semua ditangani sendiri, mereka menguras banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk mewujudkan buku tersebut menjadi mimpi yang nyata.

Penerbitan yang mereka dirikan adalah buah dari mimpi mereka yang lain. Sebuah mimpi yang  berkembang menjadi begitu banyak mimpi yang menunggu untuk diwujudkan.

Ah, melihat begitu banyak mimpi yang sedang mereka gapai, saya rasa mba Dee dan bahkan mas Kuti berhak untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka dengan menikmati jahe rebus dan berhenti berpikir sesekali 😆

Bolu jahe kukus saya sudah matang. Saya hendak mengantarnya. Tetapi rumah kayu sedari tadi begitu ramai. Sejak kabar buku mereka telah terbit semakin banyak tetangga yang bertamu di rumah tersebut.

Saya duduk di depan Jendela. Menunggu. Membayangkan mimpi-mimpi saya kelak akan terwujud juga satu demi satu. Aroma jahe dan kayu manis hangat tersebar di udara. Sementara ada senandung yang terdengar dari rumah sebelah: Senandung Cinta dari Rumah Kayu.

cinta disenandungkan syahdu
bagai bunyi petikan dawai yang begitu merdu

di sebuah rumah berlantai kayu
semua mimpi bagai terangkum menjadi satu

Keterangan:
Tulisan ini adalah cerita dan pendapat pribadi saya tentang keluarga besar rumahkayu,
apresiasi saya atas terbitnya buku pertama rumahkayu dan berdirinya daunilalang publishing.
Semoga mimpi indah itu kelak menjadi nyata 😉 -hes-

8 Comments

Add yours
  1. 1
    'dee

    aduh hes… tulisan ini… luar biasa indah…
    aku sampai bisa membayangkan dalam angan semua situasi yang digambarkan ini, benar2 seperti nyata dan tampak jelas…

    terimakasih banyak ya hes. terimakasih untuk menjadi sahabat dan tetangga yang menyenangkan.

    mengutip kata2 hes dulu: bertetangga kadang2 memang makan hati, tapi kita selalu bisa meminjam gula dari tetangga yang baik hati…

    semoga kita selalu bisa saling meminjam gula ya hes 😀

    makasih banyakkkk sekali lagi… dan, ah, aku mau coba bikin bolu jahe ini di rumah… pasti enak banget…

  2. 6
    ita

    Walau terlambat melihat tulisan ini..
    Tapi gk ada kata terlambat kan untuk mencobanya, mulai dari kue bolu jahenyaa, keromantisan yg di ceritakan Hes dalam keluarga Dee’ dan Kuti, jg semangat yg di gambarkan.
    salam

  3. 7
    echa

    mbak…aku dah nyobain resepnya…cuma kok rada aneh ya manis gula aren dicampur garam…trs, kok agak bantet ya? padahal aku dah pake mixer signora kecepatan tinggi…hiks..
    btw, tengkyu ya mbk..resepnya 😉

+ Leave a Comment

2 × 2 =