Bubur Merah Bubur Putih


buburmerahbuburputih

Kami memang tidak mengadakan ‘syukuran resmi’ sewaktu kedua anak kami lahir. Walau begitu bukan berarti kami tidak bersyukur luar biasa atas kelahiran mereka.

Bubur merah dan putih biasa disajikan saat syukuran atau selametan dalam masyarakat Jawa. Saya memang tak terlalu paham bagaimana sejarahnya atau apa filosofi dibaliknya.

Dalam artikel di blog bagusbluesman soal filosofi merah putih disinggung sedikit soal bubur sengkala atau bubur merah putih. Dimana putih artinya asal kehidupan yakni sebelum manusia lahir. Kemudian merah yaitu dunia atau bumi tempat manusia lahir.

Saya membuat bubur merah putih kemarin untuk memenuhi janji saya pada mba dee  untuk memperingati lahirnya penghuni baru di rumahkayu. Lahirnya tokoh baru di rumahkayu pasti akan membuat semakin berlimpahnya ide duet penulis di blog tersebut, mba dee dan mas kuti 😉 Selamat yaa ..

Bubur Merah Bubur Putih

Bahan:

  • 1/2 cangkir beras putih, cuci bersih
  • 500 ml santan cair
  • 100 ml santan kental
  • 1 lembar daun pandan
  • 1 buah gula merah, sisir atau iris
  • 1/2 sdt garam

Cara membuat:

  1. Rebus beras dengan santan cair, garam, dan daun pandan hingga menjadi bubur –jangan lupa diaduk sesekali
  2. Tambahkan santan kental, aduk rata, masak hingga bubur meletup atau mendidih
  3. Bagi bubur menjadi dua bagian
  4. Tambahkan gula merah yang telah disisir ke dalam satu bagian bubur, masak di atas api kecil, aduk rata hingga bubur berubah warna
  5. Angkat dan sajikan hangat
Lama memasak: 30 menit
Untuk 3 orang

6 Comments

Add yours
  1. 3
    anny

    Untuk bubur merah putih ini kadang suka memandang sebelah mata, dianggap gampang he..he….walhasil hasil masakannya bisa terlalu encer atau keras, btw udah ada resep ini, aku ikut panduan resepnya Hes 😀

  2. 5
    'dee

    hehehe… munculnya bubur merah bubur putih beneran di serial posting tentang kelahiran si kembar di rumahkayu adalah salah satu bagian paling seruuuu…

    thanks a lot ya hes…

    btw, bubur merah bubur putih sering juga disebut jenang sengkolo. secara tradisional dipercaya bubur ini adalah sejenis bubur yang harus hadir saat selametan agar ke depan semua berjalan lancar, jadi sejenis ‘tolak bala’, gitu… bukan hanya pas kelahiran bayi tapi bisa selametan apa aja, pas bikin rumah, atau apapun…

    yang paling populer, dibuatnya dari tepung beras, jadi buburnya halus. disajikannya… mmm… aku agak lupa, tapi ada satu piring yang isinya putih saja, satu piring yang merah saja, lalu ada yang putih diberi merah, dan merah diberi putih… dan… ah… lupa, beneran… nanti kalau pas ngeliat yang semacam ini di selametan aku fotoin deh.

    omong2, mungkin merah-putih secara historis dipercaya sebagai suatu keseimbangan kali ya di nusantara? sebab bendera kita juga merah putih… 🙂

    d.~

+ Leave a Comment

13 − one =