Cerita Soal Kopi

Cerita Soal Kopi


Ini cerita soal Kopi. Tapi bukan soal sejarahnya. Jangan pula berharap ini tulisan soal kopi ala-ala feature.

Ini cerita soal saya — Wicak Hidayat — dan kopi. Sebuah kisah dari antah-berantah yang tiba-tiba malam ini (di waktu saya menuliskan ini) ingin saya bagikan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Seperti banyak anak laki di Indonesia, saya mengenal kopi dari Ayah saya. “Bapak” dulu meminum kopinya, kalau orang Jawa bilang: Nasgitel; Panas Legi, Kentel.

Kopinya, entahlah, Kapal Api sepertinya sih. Saya cuma ingat bahwa saya senang menyeruput sisa kopinya di cangkir, yang sudah sangat dekat dengan ampasnya itu lho.

Sejak kecil, sampai saya beranjak dewasa, pengetahuan saya soal kopi ya terbatas pada kopi Nasgitel itu

Kemudian datanglah Starbucks, yang membuka cakrawala saya pada kopi campur. Tak sesederhana kopi susu yang bisa dipesan di warung Indomie, atau kopi campur ala-ala yang dijual dalam kemasan sachet.

capucino

Starbucks hadir dengan istilah-istilah memukau, seperti Grande, Machiato, Caramel, Frappucino dan lain sebagainya.

Maka, ngopi di Starbucks pun jadi sebuah pesona tersendiri, di masa-masa awal saya mengenal gerai kopi yang lahir dari penggrosir kopi Seattle itu. (Lho, rasanya saya pernah nulis soal Starbucks di MasukDapur ya?)

Belakangan, saya mulai berkenalan dengan apa yang banyak orang sebut sebagai coffee snobbism, yaitu kopi yang bukan sekadar kopi.

Entah siapa yang mulai, beberapa tahun belakangan saya makin terpapar pada kopi dari segi citarasa.

Kopi single origin, yang kemudian mementingkan citarasa kopi itu sendiri. Tanpa campuran, bukan hanya tanpa susu, bahkan tanpa gula.

Seorang teman di kantor, Yoga Takai, yang membuat saya berani mencoba kopi ala-ala hipster ini.

Lucunya, memang ada sesuatu yang berbeda antara kopi ‘biasa’ dengan kopi ‘single origin’ atau yang campurannya memang dirancang khusus. Di sinilah saya merasa terbelalak. Ternyata eh ternyata, kopi itu citarasanya juga bisa macam ragam.

Kemudian, cara membuatnya, mulai dari tubruk, french press, vietnam drip dan bahkan cold brew (seduh dingin).

Jauh dari expert, saya sungguh hanya nyubi dalam hal perkopian ini. Kemampuan saya baru pada taraf: oh iya, ini enak ya ternyata!

Tapi, sesuai semangat MasukDapur.com bahwa “Everyone Can Cook”, saya juga memberanikan diri mengolah kopi saya sendiri.

Berbekal semangat dan panduan dari Takai-san, saya mengumpulkan bahan dan peralatan yang saya inginkan: kopi dalam bentuk biji utuh, Coffee Grinder dan sebuah alat penetes kopi khas Vietnam.

macammacamkopi

Awalnya, saya menggiling biji kopi lalu menyeduhnya dengan gaya tubruk. Kemudian, mencoba vietnam drip dan terakhir saya nekat mencoba metode seduh dingin ala Jamie Oliver.

Satu hal sih, setiap kopi yang dihasilkan pasti pahit. Dan butuh keterbiasaan untuk bisa mencicip kopi pahit yang berbeda-beda dan mulai menemukan citarasa yang berbeda.

Tapi begini, harus saya akui bahwa segala percobaan dan petualangan baru di dunia kopi ini sungguh menggugah dan membuat keranjingan.

Saya khawatir, ada semacam kegandrungan yang sulit untuk dienyahkan, saya mulai minum “terlalu banyak” kopi.

Secara rasional, saya menduga ada reaksi antara kafein dengan sistem kimia tubuh — terutama, otak? — saya yang membuat hal itu terjadi.

Secara emosional, saya terpukau, saya sungguh merasa enggan melepaskan diri dari kait kopi yang sudah makin dalam menyangkut di kepala ini.

Kopi, ternyata, memang punya dampak yang luar biasa.

2 Comments

Add yours

+ Leave a Comment

20 − four =