Dari Toko Kopi ke Waralaba Raksasa

Dari Toko Kopi ke Waralaba Raksasa


starbucksBayangkan pasar, tempat kita biasa membeli bahan-bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari. Pasar tradisional, tentunya, bukan “pasar super” yang sekarang mungkin lebih akrab untuk kita sambangi.

Seringkali di pasar, mungkin hampir di setiap pasar basah di Indonesia, ada kios yang menjual produk kering. Termasuk, yang menjual kopi bubuk. Seringkali kopi bubuk curah, atau bahkan hasil gilingan lokal, dan bukan tidak mungkin kopi itu kita bisa pesan. Minimal bisa dipesan campurannya (Arabica 50 persen, misalnya).

Demikianlah, rupanya, Starbucks bermulai. Dari sebuah toko yang menjual bubuk kopi hasil gilingan orang lain.

Pada 13 Maret 2014 saya berkesempatan mampir ke toko orisinal Starbucks yang berlokasi di 1912 Pike Place Market, Seattle, Washington, AS.

Tokonya terbilang sederhana, apalagi kalau dibandingkan Starbucks yang ada saat ini. Hanya counter tempat orang bisa memesan kopi serta area (relatif) sempit untuk menyesap kopi, tak ada sofa-sofa besar dan empuk atau benda-benda lain yang sekarang begitu identik dengan Starbucks.

Rupanya toko itu dipertahankan demikian ibaratnya sebuah museum. Karena memang pada wujud aslinya Starbucks bukan “kafe”. Ia adalah toko penjual kopi yang mungkin awalnya tak jauh berbeda dari kios penjual kopi curah yang ada di pasar tradisional.

Bedanya, sejak awal Starbucks didirikan untuk menjual kopi “premium”, yang telah melalui proses dengan standar mutu tertentu. Baldwin, Siegl dan Bowker awalnya hanya menjual kopi premium garapan perusahaan milik Alfred Peet (orang yang menginspirasi mereka untuk membuat Starbucks).

Namun perlahan mereka malah mencaplok perusahaan Peet’s. Meski kemudian Starbucks juga dijual ke Howard Schultz, mantan karyawan mereka sendiri, dan “disulap” menjadi waralaba raksasa.

Berawal dari toko kopi, penjual bubuk kopi gilingan premium, Starbucks bisa menjelma waralaba global. Betapa saya mendambakan hal semacam itu di Indonesia, kisah serupa di mana penjual kopi (atau sate, atau martabak, atau apalah) yang berawal dari kios sederhana di pinggir pasar bisa berkembang jadi bisnis raksasa.

Saya yakin kisah serupa tapi tak sama juga ada di Indonesia. Sampaikan di komentar agar saya (dan teman-teman pembaca yang lain) tahu. Kita butuh inspirasi bisnis kuliner lokal semacam itu.

+ There are no comments

Add yours

13 − nine =