Hari 3 Puasa: Puding Coklat dan Lodeh


Sejak kemarin saya sedang penasaran asal muasal istilah tajil yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk menyebut makanan kecil untuk berbuka puasa.

Kata itu tidak ada di kamus umum bahasa indonesia (entah memang bukan bahasa asing yang diindonesiakan atau kamus yang saya punya sudah terlau tua :mrgreen: ). Saya pikir itu adalah bahasa arab yang diindonesiakan.

Hasil dari pencarian saya di mesin pencari Google hanya ada satu situs yang menyinggung arti harfiahnya. Tetapi itu juga tidak lengkap malah semakin membuat saya penasaran.

Ta’jil dengan hamzah berarti penundaan, sedangkan dengan ‘ain berarti buru-buru. (Komentar di salah satu blog)

Ah masalah itu nanti sajalah dicari tahu lagi. Yang penting hari ini masak apa?

  • Nasi putih
  • Sayur lodeh
  • Perkedel tahu
  • Sambal
  • Kerupuk singkong

Kebetulan Wicak pulang setelah magrib dan sudah berbuka di kantor jadi saya menyiapkan makanan kecil yang ringan saja untuk cemilan. Seharusnya sih menyiapkan buah tetapi sayang tukang sayur hari ini tidak membawa buah 🙁

pudingcoklatPuding Coklat

Bahan puding:

  • 1 bungkus agar-agar coklat (bukan jelly)
  • 3 cangkir air
  • 5 sdm gula pasir
  • 4 sdm coklat bubuk

Cara membuat:

  1. Aduk rata semua bahan dalam panci
  2. Rebus hingga mendidih
  3. Angkat dan cetak dalam wadah
  4. Dinginkan

Bahan vla:

  • 150 susu cair
  • 3 sdm gula pasir
  • 1 kuning telur
  • 1/2 cangkir air matang
  • 1 sdm tepung maizena

Cara membuat:

  1. Campur kuning telur dengan air dan tepung maizena, aduk rata, sisihkan
  2. Rebus susu dan gula dengan api kecil hingga mendidih
  3. Masukkan campuran telur dan maizena, aduk rata hingga saus mengental
  4. Angkat dan dinginkan
  5. Sajikan dengan puding coklat

lodehPenasaran dengan asal usul kata istilah ta’jil, saya jadi keranjingan mencari asal usul. Sayur lodeh kali ini yang jadi perburuan saya karena hari ini saya memasak sayur tersebut. Googling sebentar saya menemukan banyak blog dan forum yang menampilkan cerita dibawah ini:

Banyak orang menduga bahwa, sayur lodeh berasal dari Jawa karena rasa dan
model masaknya sangat khas jawa. Tapi sebenarnya sayur Lodeh itu berasal dari Betawi..ga percaya kan ?? coba simak sejarah sayur/jangan LODEH berikut .

Pada masa penyerangan Mataram ke Batavia pada beberapa abad yang lalu, Sultan Agung menggunakan taktik “tarik pasukan” artinya menarik pasukan dari berbagai daerah yang dilalui.

Beliau mengajak para Jawara Daerah yang dilalui pasukan untuk bergabung dalam penyerangan ke Batavia , sehingga banyak pasukan yang berasal dari Tegal, Purwokerto,Cilacap, Bandung , Cirebon , Bogor , Betawi dll. Namun Pasukan Hindia memiliki strategi yang jitu, yang intinya mereka melumpuhkan basic logistik Mataram dengan membakar Gudang Bahan Makanan dan mengancam Juru masak untuk tidak membantu Sultan Agung dan pasukannya.

Pada rangkaian penyerangan tsb, alkisah di belantara Jatinegara terdapat 1 kompi pertahanan dari Mataram yang sedang kelaparan, mereka tidak memiliki bahan makanan apalagi juru masak. Maka mereka mendapat ide untuk memasak sendiri dengan mencampur sayur-sayuran dan bumbu2 yang mereka dapatkan disekitarhutan itu. dan akhirnya mereka memasak dengan sembarang dan memakannya. Ternyata campuran2 mereka itu memiliki rasa enak..berikut cuplikan dialog mereka :

Prajurit Jogja : Wah Sayure akeh banget..tapi jebul enak..kira-kira Dijenengke apa sayur iki (Sayurnya banyak bgt, dan tyt enak, kira2 dinamakan sayur apa/)

Prajurit tegal : iyak..nyong ngrasa enak juga..wetengku rak kencot maning (iya aku ngrasa enak juga..perutku jadi ga lapar lagi)

Prajurit bandung : Tos ulah raribut wae ? ayena kumaha ceuk maneh Bet (Sudah jangan pada ribut, sekarang bagaimana menurut mu Bet–*nama prajurit Betawi–*)

Prajurit Betawi : Yeee, kok guwe yang ditanye namenye ape… ye terserah Loe dech…

Prajurit Bogor : naon? angen loe dech ..

Prajurit Cirebon : Wah jenenge sayur loe dech

Prajurit Jawa (sambil bawa keris) : Ya wis …Sayure sing bar kita makan ini kita beri nama sayur loe dech …

Maka sejak itu hingga saat ini orang menamakan hidangan tersebut Sayur Loedech atau dilafalkan dalam bahasa indonesia menjadi sayur lodeh.

Hahahaa 😆  Pertanyaan saya kenapa prajurit Jawa dijelaskan ‘sambil membawa keris’ ya? :mrgreen:

10 Comments

Add yours
  1. 2
    mutia

    wahh. menu tajil aq hari ini tuh.. ibukos ku dengan baik hati nyiapin itu buat anak2 kosnya..
    hmm.. yummy!
    oiya. ta’jil itu sepengetahuan saya artinya “menyegerakan”, (pake ‘ain)
    muncul istilah ta’jil ini mungkin karena memang di sunnah kan untuk menyegerakan dalam berbuka puasa 🙂
    masak2 lagi ya… tak tunggu resep2nya.. (hungry) ^^

  2. 4
    hes

    @suamimalas: .. wah mas reza, kira-kira resep bisa ga dijual online? :mrgreen: hehe
    @mutia: wah, salam kenal muuth 🙂 thx ya penjelasannya ..
    @widdy: boleh aja, wid, ntar kalo blogwalking dibawain 😆

  3. 6
    suarahati

    Aduuhh…bikin ngiler!!..btw, kok bisa sih Mba Hes dah pnya kartu namaku? pasti itu kartu nama wkt aku masih kerja di Law Firm….yg ditempat baru belum punya kan??heheheh….kapan2 bisa kopdar yah, jadi aku bs kasih kartu nama yg baru…hehehehe

  4. 7
    hes

    @ani: iya dong teh biar ga bosen. biasanya masak sambil berpuisi 😆
    @suarahati: hihi itu waktu mba mou kopdaran di rumahnya pak budi, mba mou, mba ella dan teman-teman yang lain kan bertemu suami saya dan semobil (kalau ngga salah). dan ia membawa pulang beberapa kartu nama waktu itu. eh betul mba mou bukan ya? :mrgreen:

+ Leave a Comment

12 − 4 =