Healthy Cooking Competition Pediasure


Posting terakhir di MasukDapur adalah tanggal 5 Juli 2011 yah ampun!

Tanggal 20 Juli 2011 kemarin saya menerima email dan telepon pemberitahuan dari MOM (MotherOnMobile) bahwa resep saya terpilih menjadi salah satu finalis dalam seleksi lomba masak yang diadakan MOM dan Pediasure. Kabar tersebut terus terang mengejutkan dan menggembirakan secara saya tak pernah dapat undangan mengikuti event apapun selama menjadi blogger dan eh selama saya menggeluti hobi memasak. Ehm..

Kabar tersebut datang sesaat setelah saya mengupload buku MasukDapur untuk diterbitkan melalui nulisbuku.com. Hari itu seperti salah satu hari pencapaian saya maksudnya saya berhasil mencapai satu tujuan dari sebuah perjalanan. Great!

Grand final Healthy Cooking Competition Pediasure diadakan di pelataran parkir Carrefour Lebak Bulus dengan juri Bara  Pattiradjawane dan ahli gizi dari PT. Abbott Indonesia.

Perlombaannya dimulai dengan berbelanja dahulu kebutuhan resep di Carefour. Setelah itu diberi waktu 60 menit untuk membuat hidangan sesuai resep yang diikutsertakan.

Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti lomba masak. Saya lebih sering mengikuti lomba masak virtual (di internet). Kendati beberapa kali menang lewat adu resep di internet tapi terjun langsung memasak di hadapan penonton dengan waktu yang terbatas tentunya pengalaman yang jauuuuh berbeda.

Kendala dan Cerita

Resep yang saya lombakan berjudul Otak-otak Ikan Wortel Pediasure yaitu perpaduan ikan tenggiri, sagu, wortel dan Pediasure yang dikukus tanpa dibungkus daun pisang. Kreasi ini ditujukan untuk anak-anak sehingga bukan hanya memodifikasi resep, saya juga menyajikannya dengan cara  mencetak otak-otak menjadi bentuk-bentuk yang dapat menarik minat anak-anak. That’s the plan.

Tetapi permulaan saya berjalan tidak lancar. Carrefour kehabisan salah satu bahan utama yang ada dalam resep saya yaitu tepung sagu. Apa daya saya menggantinya dengan tepung tapioka. Ini adalah pilihan kedua terbaik saya, tepung tapioka tidak mengikat sebaik tepung sagu. Sehingga hasil akhirnya pun tidak akan sekenyal jika saya menggunakan tepung sagu. Tapi perlombaan harus berjalan dan waktu terus berdetak sehingga saya terpaksa mengambil alternatif ini.

Oke setengah jam perjalanan lomba berjalan lancar, saya memotong; mencincang; melumat dengan baik bahan-bahan sehingga siap dikukus. Peralatan yang disediakan cukup lengkap dan sesuai dengan permintaan saya saat technical meeting tetapi tetap saja bekerja dengan peralatan dan ditempat asing dengan waktu yang berjalan (rasanya) lebih cepat dari biasanya membuat saya gugup.

Pembawa acara mengumumkan waktu tinggal 20 menit, beberapa peserta sudah menyajikan masakan di meja penilaian. Terdorong oleh desakan untuk segera menyajikan masakan saya, saya mengangkat otak-otak saya. Hasilnya mengembang sempurna, berwarna jingga, dan beraroma ikan yang sedap. Saya senang.

Tetapi aah.. tak mudah mencapai tempat terbaik ya? Saat saya mencetak dan memotong otak-otak saya menjadi bentuk bintang dan bulan, saya sadar bahwa masakan saya belum matang sempurna. Saya melihat otak-otak saya yang dipanggang di atas wajan datar beralas daun pisang dengan perasaan tak menentu. Antara perasaan tak tahu lagi apa yang akan saya perbuat dan perasaan yang kuat untuk menyelamatkan masakan in.

Saya tahu hasilnya memang tak sebaik yang biasa saya buat di rumah apapun yang akan saya lakukan tetapi tetap saja saya tak bisa menghidangkan masakan ini tanpa memperbaikinya dahulu. Ah tantangan berpikir cepat dalam memasak seperti ini selalu membangkitkan semangat saya ;)

Sementara juri memeriksa satu per satu hidangan yang lain, saya mengambil otak-otak saya yang sudah berbentuk bintang dan bulan dari atas wajan datar dan mulai menyusunnya di dalam keranjang dim sum (tempat saya mengukus sebelumnya). Saya menaburnya dengan bawang daun lalu mengukusnya kembali. Berharap otak-otak saya akan matang dengan baik dalam sisa waktu yang ada.

Hufh waktu tinggal 5 menit, saya meletakkan keranjang dimsum yang masih mengepul di atas piring saji saya, menghiasnya dengan irisan jeruk nipis sebelum para juri selesai mencicipi masakan peserta sebelum saya. Saya adalah peserta yan paliiing terakhir yang masakannya dicicipi juri.

Pasrah? Yeah tentu saja. Harapan saya yang besar di awal lomba menyusut ke level yang paling rendah. Saya bilang pada Wicak, ‘Ga pa pa ya ga menang. Maaf’ Hehe saya merasa bersalah karena yah tidak bisa dipungkiri ada dana yang harus dikeluakan untuk sampai ke sini selain uji coba resep, juga ongkos ditambah anak-anak yang merengek minta dibelikan makanan kecil

Wicak sih bilang yang penting pengalaman dan well acaranya sendiri cukup menyenangkan apalagi bisa bertemu Bara Pattiradjawane, salah satu pembawa acara masak-masak yang sering kami tonton acaranya.

It’s a great day!

Categories

2 Comments

Add yours

+ Leave a Comment