Kentang Brokoli Panggang


Penulis tamu: Dee – Rumahkayu

Suatu pagi di hari libur.

DEE mengeluarkan pinggan dari panggangan.

Hmmm… selesai sudah acara masak memasak pagi ini.

Seperti yang biasa terjadi di banyak hari libur, Dee membuat sesuatu yang praktis dengan waktu memasak yang cepat saja untuk dinikmati keluarga. Begitu juga yang dilakukannya pagi ini.

Yang berbeda hanya…

“ Bunda, koq bikinnya dua? Untuk siapa? “ Pradipta menatap dua buah pinggan di atas meja.

Dee tertawa. “ Yang satu untuk tante Hes, “ jawab Dee, “ Bunda dengar tante Hes sedang pusing, jadi mungkin segan memasak. “

Dee memang mendengar kabar bahwa Hes sedang pusing. Mungkin kumat anemianya, seperti biasa.

Ooo, begitu, pikir Pradipta.

“ Yang ini buat kita kan, Bunda? “ tanyanya lagi menunjuk ke salah satu dari dua buah pinggan tersebut.

Dee mengangguk. “ Ya. Dipta mau? Ambillah… “

Pradipta tertawa senang. Dia lapar, dan wangi masakan itu sungguh merangsang. Dengan segera dia berjalan ke dapur untuk mengambil beberapa buah piring bagi mereka semua.

Sementara itu, pada saat yang sama, Dee berjalan menuju rak bukunya. Dicarinya sebuah buku diantara deretan buku- buku di sana. Ketika ditemukannya apa yang dicarinya, dia menarik buku tersebut, mencari di daftar isi dan kemudian menyalinnya ke atas kertas.

Untuk Hes, pikirnya. Siapa tau Hes ingin mencoba resep ini.

***

Dee mengganti bajunya. Dia bersiap- siap hendak mengantarkan masakan yang dibuatnya beserta catatannya tadi pada Hes yang rumahnya bertetangga dengan mereka.

Kepiawaian memasak Dee, tentu saja tak dapat dibandingkan dengan Hes. Keterampilan Dee dalam masak memasak sungguh hanya ala kadarnya. Tapi bagaimanapun, dia senang bertukar resep dan sekali- sekali bertukar masakan dengan Hes.

Pagi itu, Dee membuat masakan praktis yang sangat mudah dan telah berulang kali dibuatnya.

Pradipta dan Kuti menyukai masakan ini. Dee sendiri juga menyukai rasanya.

Resep masakan ini dulu didapatnya dari… entahlah, Dee sudah lupa. Entah dari majalah atau buku masakan yang dibacanya. Dia mencoba resep itu dan karena ternyata rasanya enak lalu akhirnya berulang kali membuat masakan yang sama, Dee hafal resepnya.

Masakan yang dibuatnya adalah kentang dan brokoli yang dipanggang.

Saat memasak tadi, Dee mengukus setengah kilogram kentang. Setelah matang, kentang- kentang ini kemudian dikupas dan dipotong- potong kasar.

Sementara itu, brokoli seberat kira- kira enam ons yang telah dicelupkannya sebentar ke dalam air mendidih dipotong- potong sesuai kuntumnya.

Dee ingat bahwa resep asli yang dibacanya dulu sebenarnya hanya menyarankan untuk menggunakan kuntum brokoli saja tanpa menyertakan batangnya. Tapi Dee sendiri menyukai rasa batang brokoli. Dan karenanya dia selalu mencincang halus batang brokoli dan menyertakannya ke dalam adonan ketika membuat kentang dan brokoli panggang ini.

Dee juga memarut keju seberat dua ons.

Setelah mengukus kentang, memetiki dan memotong- motong brokoli serta memarut keju, Dee menumis sesendok makan margarin dan menumis 2 ons bawang bombay cincang. Setelah tercium olehnya bau harum tumis bawang, brokoli yang telah disiapkannya tadi dimasukkan ke dalam wajan dan sejenak diaduk agar tercampur dengan tumisan bawang bombay itu.

Seselesainya dia menyiapkan bahan- bahan utama tersebut, Dee lalu menyiapkan pinggan tahan panas dan mengolesi sisi- sisinya dengan margarin. Ditaruhnya kentang iris di dasar pinggan tersebut, kemudian ditaburkannya keju parut di atas kentang tersebut. Setelah itu, dimasukkannya adonan brokoli dan tumis bawang bombay.

Kemudian, Dee menyiramkan cairan yang terdiri dari kocokan empat butir telur, 300 ml susu cair yang dibumbuinya dengan garam, merica serta pala bubuk ke dalam pinggan itu.

Terakhir, Dee mencampurkan sesendok makan keju parut, sesendok makan tepung panir dan sesendok makan margarin menjadi satu hingga berbentuk butiran- butiran. Kemudian butiran ini ditaburkannya di atas adonan yang telah disiapkan di dalam pinggan tadi, lalu dia memasukkan pinggan tersebut ke dalam panggangan.

Kali ini, karena ada anak- anak, Dee tidak menyertakan cabai sama sekali, walau kadangkala jika dia membuatkan masakan itu untuk kerabatnya yang tak lagi mempunyai anak kecil di rumah, Dee sering juga menaburkan tumisan cabai merah iris di atas butiran campuran keju, tepung panir dan margarin tadi.

***

Dee berpamitan pada Kuti yang sedang menuliskan sesuatu di komputernya. Dikatakannya pada sang suami bahwa dia hendak mengunjungi Hes sebentar.

Pradipta yang ingin ikut dengan Dee ke rumah tante Hes juga berpamitan pada sang ayah, ” Papa, aku pergi dulu… ”

Kuti tersenyum dan menjawab, ” Ya, hati- hati. Salam untuk oom Wicak ya. Bilang, kalau buku baru oom Wicak sudah terbit nanti, papa minta satu yang bertanda tangan… ”

Pradipta mengangguk. Dee juga mengangguk sambil tertawa. Dia menuju pintu depan rumah kayu sambil memegang pinggan berisi masakan yang dibuatnya untuk Hes dengan hati- hati. Sebelumnya, dia telah menitipkan kertas yang berisi catatannya pada Pradipta.

Kertas itu berisi catatan resep obat tradisional untuk anemia.

Berdua, mereka melangkah perlahan menyusuri jalan menuju rumah Hes…

3 Comments

Add yours

+ Leave a Comment

3 × 1 =