Ketan Goreng


ketanoli

Dulu sewaktu kecil, saya hanya bisa menemui ketan goreng saat lebaran. Biasanya banyak tetangga atau saudara yang memberikan ketan ini sebagai buah tangan saat bersilahturahmi. Saya dan keluarga biasa menyebutnya ketan uli.

Ketan yang diberikan tentu saja belum digoreng. Ketan nan lengket ini tentu saja sudah bisa dimakan karena sudah matang. Biasanya disandingkan dengan tape ketan hitam yaitu ketan hitam yang difermentasi sehingga rasanya manis masam. Saya tidak terlalu suka tape ketan hitam. Duluuuu, sekarang apa sih yang ngga suka 😆 Tapi fermentasi biasanya menghasilkan alkohol jadi agak ngeri-ngeri juga. Hehe.

Ketan yang biasanya dibentuk lingkaran ini, dipotong-potong  lalu digoreng. Biasanya disajikan bersama masakan lebaran yang sudah dipanaskan kembali. Favorit saya sambal goreng kentang dan semur. Enakkk :mrgreen: Tapi jika masakan lebaran sudah habis sementara ketannya masih banyak, biasanya kami memakannya bersama sambal terasi yang diberi kecap.

Kemarin saya membeli ketan uli ini di pasar. Ketan uli yang dijual, dibakar dahulu lalu disajikan dengan serundeng dan gula putih. Enak memang tapi saya sedang kangen ingin mencoba ketan uli goreng yang dimakan dengan sambel dan kecap. So ketan uli yang sudah dibakar saya goreng kembali.

“Enak sih tapi aku lebih suka yang pakai serundeng”, kata Wicak :mrgreen:

Ketan uli terbuat dari campuran ketan dan kelapa parut. Beras ketan yang telah direndam selama kurang lebih 6 jam, dikukus hingga matang. Ketan yang sudah masak ditumbuk bersama kelapa parut yang sudah dikukus dan sedikit garam hingga halus. Campuran yang sudah halus di bungkus dengan daun pisang. Bisa langsung disantap atau diolah kembali seperti dibakar atau digoreng.

4 Comments

Add yours

+ Leave a Comment

seventeen − 2 =