Membaca Resep (Lanjutan)


Seperti yang pernah saya singgung soal bagaimana cara saya membaca resep, biasanya saya membaca resep (baca: resep masakan) sekilas saja mencari tahu bahan-bahan apa yang sekiranya diperlukan. Lalu saat memasak saya bisa saja mengikuti resep tersebut sesuai takaran dan cara pembuatan atau sering kali memodifikasinya sesuai persediaan bahan dan tentu saja selera keluarga.

Selera keluarga memang paling berpengaruh dalam hal ‘mengamalkan’ isi resep. Resep yang sama belum tentu membuahkan hasil masakan yang sama pula, tergantung kebiasaan juga selera yang  memasak.

Saya misalnya jika dalam sebuah resep masakan dituliskan takaran gula pasir sebanyak 1 sendok makan maka saya akan menambahkan gula sebanyak 1 1/2 sendok makan karena saya suka masakan yang agak manis.

Atau jika dalam resep kue menyebutkan gula yang harus ditambahkan sebanyak 150 gram maka saya akan menambahkan gula sebanyak 100 gram karena untuk kue saya tak terlalu suka terlampau manis :mrgreen: Selera ..

Cara saya membaca resep juga berpengaruh dengan cara saya menulis resep. Saya selalu menuliskan takaran standar untuk garam dan gula. Garam 1/2 sendok teh dan gula 1 sendok makan. Hal ini tentu saja tidak baku. Karena tentu saja saya paham setiap orang pasti memiliki selera yang berbeda. Cukup asin untuk saya belum tentu untuk orang lain.

Perbandingan garam dan gula yang biasa saya gunakan adalah perbandingan paling pas untuk saya dalam menghasilkan rasa gurih. Tetapi mungkin saja tidak pas untuk yang lain.

Seperti mempelajari keterampilan lain, semakin lama semakin jago, begitu juga dalam memasak. Jika sudah terbiasa masalah ketepatan penakaran bumbu dan bahan hanya soal perkiraan .. eh feeling ajah kalo kata orang bilang 😀

Itu juga kadang ada banyak orang bilang, bumbu ajaib (bukan rahasia) dalam memasak adalah perasaan cinta. Berlebihan mungkin terdengarnya tetapi walau agak norak hal itu memang tepat adanya.

Bumbu cinta bisa berasal dari banyak hal: kecintaan terhadap makanan, kecintaan terhadap dunia memasak, dan atau yang paling utama dan yang paling banyak adalah kecintaan terhadap keluarga. Hal itu mungkin yang menyebabkan tidak sedikit orang yang selalu rindu masakan rumah kendati ia sudah (atau sedang) menikmati masakan yang unik, lezat, bahkan mewah. Bumbu yang sifatnya personal sekali yang dimiliki juru masak untuk menghasilkan hidangan luar biasa. .. Ahay.

Semua dasar itu ditambah pengetahuan tentang teknik-teknik memasak  -bukan tidak mungkin- akan membuat kita menjadi seorang masterchef walaupun hanya dalam lingkungan keluarga. Hehe ..

Memasak bukan keterampilan yang sulit untuk dipelajari, saya masih percaya jika semua orang bisa memasak jika mau 😀

Let’s #prayforindonesia.

2 Comments

Add yours
  1. 1
    ossyogi

    bener teh, soal bumbu mah feeling aja. kalo 1 sdm kita belum tentu sama dengan 1 sdm orang lain, mungkin punya kita peres, punya dia muncung, he3

  2. 2
    rumahkayu

    Bener banget Hes..aku kalo lagi mudik suka minta dibuatin sup kacang merah di rumah ibu..krn entah kenapa aku selalu merasa bahwa rasanya beda dgn yg dimasak di rumahku.. Heran deh 🙂 d.-

+ Leave a Comment

sixteen + twenty =