Mishkaki dan Senja di Afrika


Senja di Afrika

Daging! Paling enak ya dibakar!

Sensasi ‘daging + bakar‘ itu semacam sensasi purba, teringat pada manusia-manusia di awal zaman yang baru mengenal api. Memburu binatang, menusukkan sekerat daging pada api, lalu nyam! dinikmati seadanya.

Nah, konon kabare asal-usul manusia itu adalah benua Afrika. Di benua yang kerap disebut benua hitam itulah jangan-jangan tempat pertama kali manusia hadir di bumi.

Maka pada Jumat, 27 Maret 2009, saya pun mencari resep masakan afrika yang melibatkan daging dan bakaran.

Googling sana-sini, ketemu deh dengan resep Mishkaki dari situs The Congo Cookbook (African Recipes).  Langsung e-mail URL-nya ke Hes dengan pesan singkat: “bikin makanan afrika yuuk!”

Memasak Mishkaki

Resepnya, sedikit dimodifikasi dengan ketersediaan bahan.

Bumbu:

  • 1 ruas jahe dikupas, diparut
  • 2 siung bawang putih dikupas, dicincang
  • 1 buah tomat dikupas, dihancurkan
  • 1,5 sendok teh tamarind (asam masak)
  • 1 sendok teh bubuk kari
  • 2 sendok makan minyak
  • 2 sendok makan air
  • lada dan garam secukupnya

Bahan Utama

  • Daging has diiris kubus

Pelengkap

  • Cabe hijau besar

Cara memasaknya

Silahkan dilahap.. :)

  1. Campurkan semua bumbu-bumbu dengan ganas dalam sebuah wadah, pastikan bahan-bahan agak sedikit hancur akibat proses pencampuran itu. Bayangkan diri Anda dalam kondisi purba, mengaduk bumbu sambil diiringi tetabuhan genderang dan drum afrika. Yaaaay!
  2. Masukkan potongan daging, marinasi selama 1 – 2 jam (atau semalaman di kulkas).
  3. Seusai marinasi, tusuk-tusuk potongan daging dengan kejam!
  4. Sebagai variasi, siapkan potongan cabe hijau besar dan selingi dengan setiap kerat daging
  5. Panggang sampai matang
  6. Hidangkan bersama nasi putih. Lahap dengan riang!

Konon hidangan ini paling enak dinikmati sambil menikmati senja di Afrika. Misalnya di Forodhani Gardens, Zanzibar!

Selamat mencoba!
– wicak hidayat –

Hesti: Waktu memanggang sekitar 10 menit (bolak balik) menghasilkan daging dengan tingkat kematangan medium rare. Agak keras diluar tapi masih terasa lunak dan berair di dalam. Cabai hijau, empuknya daging bakar yang gurih sedikit masam tomat, aroma daging bakar dipadu dengan nasi putih hangat plus bayangan tentang gurun dan sunset ( walau saat itu hujan besar) terasa menggoyang lidah sehingga samar-samar hingar bingar dentuman genderang membahana dum drum dum dum! Yeehaaa!

0 Comments

Add yours
  1. 1
    ketut epi

    tambahin deskripsi rasanya dong, Cak. Meski gak cicipin satenya, setidaknya bisa mereka-reka dari “katanya” 😀

    jd tolong itu diberitahu gimana rasa makanan yg dimasak dengan ganas, ditusuk dgn kejam, dan dilahap dengan riang, hahaha…

  2. 3
    hes

    @ Neng keke: mungkin dagingnya dibolak balik bolak balik bolak balik dan bolak lagi, kalau manggangnya selama itu mungkin saja daging jadi kering dan keras :mrgreen:

  3. 4
    bunda daffa

    belom nyoba aja udh ngebayangin jadi org africa yg lagi menari-nari mengelilingi api,hehehehe………..

+ Leave a Comment

5 × 3 =