Resolusi tengah tahun: Pola Makan


Sekarang saya harus pasang resolusi tengah tahun nih: Tidak boleh terlalu sering memasak daging atau ayam. Perubahan ini tentu saja mengacu pada pola makan penurunan berat badan suami saya dan juga perubahan konsumsi pangan tinggi kalsium untuk saya.

Beberapa waktu yang lalu saya berkonsultasi dengan seorang dokter yang mendalami pengobatan herbal. Keluahan saya adalah nyeri pinggang saat bangun pagi, sering pegal, dan tentu saja anemia.

Dokter tersebut menjelaskan tentang kekurangan kalsium pada wanita yang pernah hamil dan menyusui lebih dari sekali. Janin saat berada didalam kandungan dan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif memang menghisap kalsium yang ada dalam tubuh ibu sehingga ibu hamil dan menyusui disarankan untuk menkonsumsi pangan tinggi kalsium.

Jika asupan kalsium pada ibu kurang maka dikhawatirkan pengeroposan tulang akan berlangsung dini. Ancaman Osteoporosis memang serius untuk wanita terutama yang berusia diatas tiga puluh tahun.

Dokter tersebut menyebutkan beberapa bahan pangan yang kaya akan kalsium seperti brokoli, buncis, dan teri. “Pokoknya ikan yang bisa dimakan sama tulang-tulangnya deh”, katanya. Ia juga menyebutkan tahu dan tempe sebagai salah satu bahan pangan yang mengandung kalsium.

Saya juga bertanya soal susu tinggi kalsium dan juga suplemen. Ia memang tidak melarang tetapi juga tidak menyarankan mengkonsumsi suplemen terlampau sering apalagi untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Lebih baik yang alami saja”, katanya, “Kalsium didalam susu sebenarnya tidak setinggi yang diiklankan. Susu mengandung banyak protein itu betul”, katanya lagi.

Selain asupan kalsium, asupan vitamin D juga penting. Vitamin D mampu membantu penyerapan kalsium. Sumber vitamin D yang paling murah apalagi kalau bukan sinar matahari pagi. Usahakan banyak bagian tubuh yang terkena sinar matahari pagi, hal tersebut dapatΒ  meningkatkan penyerapan vitamin D oleh kulit.

Bahan pangan yang kaya akan vitamin D antara lain susu, telur, salmon, tuna, sarden.

Sementara itu untuk anemia saya, dokter tersebut dengan tatapan yang ‘yah ampun ini orang dibilangin ngga nurut-nurut yaaa’ berkata, “Olah ragaa, hess!” πŸ˜†

Sebentar lagi saya akan berumur 31 tahun. Harus mulai memikirkan apa yang akan terjadi nanti jika saya tak mulai merubah pola hidup saya. Apalagi saya dikatakan memang hampir ..ah bukan hampir tapi tak pernah berolahraga. Kecuali jika naik turun tangga setiap hari sebanyak 20 kali itu dihitung olah raga ehm.



7 Comments

Add yours
  1. 1
    rie76

    haahahahaha…bener bener bahasan yang lengkap deh…Jadi, olah raga dan makanan itu memang mesti dua hal yang mesti di jadikan gerakan linear, yah…siz ?

    Salam kenal… πŸ™‚

  2. 3
    Asop

    Nah, ternyata benar, jangan termakan iklan dengan mudah. πŸ™ Tapi, apakah benar bahwa kandungan protein dalam susu lebih banyak dari pada kandungan kalsiumnya? ❓

  3. 4
    hes

    @asop: Protein dalam susu biasanya memang lebih banyak dibandingkan kalsium. Dalam susu bubuk, mineral seperti kalsium biasanya ‘ditambahkan’ atau istilah dalam teknologi pangannya: fortifikasi.

    Susu dengan ‘tag’ tinggi kalsium bukan berarti kalsiumnya lebih tinggi dari protein tetapi kandungan kalsiumnya lebih tinggi dibandingkan susu yang lain.

    Kalsium susu memang bagus untuk tubuh tetapi bukan berarti hanya menkonsumsi susu saja cukup untuk memenuhi kebutuhan kalsium tubuh. Sehingga dianjurkan untuk mengkonsumsi bahan pangan lain yang juga kaya akan kalsium.

    Thx πŸ™‚

  4. 5
    bundadaffa

    buat kita para ibu2,klo disuruh olah raga pasti alasannya udh capek ngurusin anak dan tetek bengek di rumah,mana sempat buat olah raga?hehehe…….soalnya saya jg begitu mbak hes……..

  5. 6
    hes

    @bundadaffa: benerrr banget tuh bunda (btw apa kabar nih bunda? πŸ™‚ ).padahal saya juga sudah bolakbalik naik turun tangga berpuluh kali belum diitung olahraga ya? hehe

+ Leave a Comment