Roti Buaya



Adik perempuan saya menikah hari Minggu kemarin. Calon suaminya (sekarang suami) membawakannya Roti Buaya sebagai bagian dari seserahan. Seserahan adalah beberapa barang untuk mempelai wanita yang diberikan oleh calon suaminya.

Bagi masyarakat Betawi, roti buaya adalah seserahan yang dianggap paling penting. Roti berbentuk buaya ini dianggap sebagai simbol ungkapan kesetiaan. Buaya sendiri memang hanya kawin dengan satu buaya lain seumur hidupnya kecuali jika pasangannya mati. Lalu istilah buaya darat darimana ya? 🙄

Selain itu pemilihan roti juga memiliki arti tersendiri yaitu kesejahteraan atau kemapanan secara ekonomi. Roti buaya yang diserahkan biasanya ada tiga. Dua roti besar dan satu roti kecil yang diletakkan di atas roti besar yang dianggap buaya betina.

Secara keseluruhan roti buaya bisa dianggap sebagai harapan dan doa semoga pasangan yang menikah akan saling setia sampai beranak cucu dan sejahtera dalam rumah tangganya 🙂

Saya belum pernah melihat roti buaya sebesar yang saya lihat kemarin. Ukurannya hampir sekitar 90cm, setinggi anak bungsu saya yang berusia 3 tahun. Tekstur roti ini memang agak keras. Kurang enak kalau dimakan begitu saja menurut saya sih 😛

Jadi saya memotongnya tipis-tipis sekitar 2 cm lalu saya panggang di atas wajan teflon hingga kecoklatan. Kebetulan roti yang diberikan oleh adik ipar baru saya ini terdapat selai coklat didalamnya. Rotinya jadi semacam toast agak kering tapi enak. Anak-anak saya suka roti buaya panggangnya diolesi lagi dengan selai kacang. Sedap!

+ There are no comments

Add yours