Soto Betawi Pesanan


Suatu kali suami saya menulis puisi atas permintaan seorang teman. Pada judulnya ia menulis embel-embel ‘pesanan’ karena ia tidak terlalu suka menulis puisi atas dasar permintaan.

Tadinya saya tidak terlalu mengerti kenapa tidak suka? tapi suatu saat saya ‘terpaksa’ harus mengangguk-angguk. Kejadiannya memang tidak sama tapi mungkin rasanya (agak) sama.

IdulAdha menyisakan beberapa bagian daging sapi di kulkas untuk beberapa hari (daging kepala kering yang sudah direbus masih dikulkas sampai hari ini. Blegh!). Daging kepala! Daging has luar! Daging kulit! Dan beberapa daging yang dari bentuknya saya tidak berani (dan tidak tahu) bagaimana mendefinisikannya. Apa yang harus saya lakukan dengan daging-daging ini?

Bapak mertua selalu bilang, ‘Wah, enak nih kalo daging kulit dimasak soto betawi. Tapi ngga ada yang masaknya ya?’ beberapa kali. Beliau juga sempat bertanya-tanya apakah mungkin meminta bantuan seorang carterer untuk mengolah daging ini menjadi soto yang beliau inginkan. Kalau jumlah dagingnya banyak mungkin saja tapi jumlah dagingnya sendiri di kulkas tidak seberapa jadi rasanya tidak memungkinkan untuk minta bantuan orang lain.

Saya sungguh-sungguh merasa tidak enak. Tentu saja beliau tidak bermaksud menyindir saya yang ‘malas’ mengolah daging-daging ini. Tapi saya sungguh merasa tersindir dan merasa sangat tidak enak. Karena walau saya sama sekali belum pernah membuat soto betawi atau bahkan menyantapnya tapi saya punya buku panduan lengkap yang bisa menuntun langkah demi langkah. Maka jadilah soto betawi menjadi santapan malam ini lengkap dengan rasanya yang mungkin amat sangat tidak serupa karena saya benar-benar tidak bisa membayangkan rasanya soto betawi itu seperti apa.

Nama Soto Betawi Pesanan mungkin tidak cocok karena pesanan artinya harus sesuai dengan permintaan. Seperti suami saya yang tidak suka diminta untuk membuatkan sebuah puisi tapi membuatnya juga dengan sebaik-baiknya, saya juga melakukan hal yang sama. Walau ini bukan sebuah permintaan secara langsung tapi saya membuatnya sebaik-baiknya kemampuan saya.

Bahan:

  • 1 kg daging (biasanyanya sih menggunakan daging jerohan), direbus hingga empuk
  • 1/2 kg daging sapi (kalau yang sebelumya bukan daging jerohan yang ini ngga perlu kali ya?), diebus hingga empuk
  • 1 mangkok kentang goreng
  • 1 mangkok emping goreng
  • 2 buah tomat
  • 2 batang daun bawang dipotong halus
  • 1 tangkai daun seledri
  • 2 sendok kecap manis
  • 6 gelas santan
  • Bawang merah yang sudah goreng

Bahan yang dihaluskan:

  • 10 butir bawang merah
  • 6 siung bawang putih
  • 2 sendok garam
  • 10 butir merica
  • 2 sdt ketumbar yang sudah dihaluskan
  • 1 sdt jintan
  • 10 butir kemiri
  • kencur secukupnya

4 lembar daun salam, 1 ruas jari lengkuas, 1 batang serai, 1 batang kayu manis, 4 sendok minyak goreng.

Cara membuat:

  • Tumis bumbu yang sudah dihaluskan serta daun salam, lengkuas, serai, dan kayu manis, bila sudah matang masukkan air rebusan daging sedikit, masukkan jerohan dan daging yang sudah dipotongpotong, lalu tambahkan kaldu daging, terakhir masukkan santan dan diadukaduk hingga mendidih
  • Siapkan mangkok yang berisi daging, irisan kntang goreng, irisan tomat, daun bawang, daun seledri, emping, dan kecap, siram dengan kuah soto, taburi bawang goreng

Resep ini diambil dari buku DapurPintar Edi Sigar.

Gud lak!

14/01/06

ps. Tuh, kan bener, sotonya sama sekali ngga laku (dan ngga enak). Akhirnya ‘soto betawi’nya saya sulap menjadi Ungkeb Daging Kecap.

+ There are no comments

Add yours