Sotoji, Soto Instan dengan Jamur Tiram


Sotoji Original

Saya dan suami senang mencoba produk baru terutama produk dengan inovasi baru. Sotoji (Soto Jamur Instan) hadir dengan tawaran untuk menikmati jamur tiram dengan cara yang baru.

Jamur tiram adalah jamur yang mudah ditemukan dan cukup banyak di pasaran. Harganya pun relatif murah. Biasanya jamur lebar berbentuk cangkang tiram dan berwarna putih ini dimasak dengan cara ditumis atau yang cukup baru adalah digoreng dengan balutan tepung hingga garing tetapi ternyata jamur tiram bisa juga dinikmati dalam masakan soto.

Soto adalah masakan khas Indonesia. Beberapa daerah memiliki hidangan khas sotonya. Misalnya soto kuning Bogor, Soto Bandung, Sroto Sukaraja, Coto Makasar, dan banyak lagi. Perbedaan soto-soto ini adalah pada bahan pelengkapnya karena untuk bahan bumbu kuah soto biasanya hampir serupa. Walaupun begitu ada dua jenis soto berdasarkan kuahnya yaitu soto bening dan soto bersantan.

Jika dimasukkan ke dalam jenis soto, Sotoji termasuk ke dalam soto bening. Kuah soto bening maupun soto bersantan biasanya adalah kaldu ayam/sapi berbumbu, tetapi Sotoji adalah soto dengan ‘kaldu’ jamur.

Rasa Tekstur dan Penyajian

Sotoji terdiri dari soun kering, jamur tiram goreng kering, bumbu, cabai bubuk, dan minyak soto. Cara memasak Sotoji tidak berbeda dengan cara kita membuat mie instan yaitu dengan merebusnya sekitar 2 menit sesuai cara memasak yang disarankan lalu ditambah bumbu, cabai bubuk dan minyak soto maka masakan soto lengkap telah dapat dinikmati.

Dari segi rasa dan aroma, kuah soto berbumbu Sotoji memang tidak mengecewakan. Rasa dan aromanya hampir sama dengan kuah soto buatan rumah. Yang membedakan hanyalah rasa gurih tak biasa yang dihasilkan dari rebusan jamur tiram goreng pada kuahnya. Rasa asing yang memberikan nuansa berbeda dalam menikmati soto.

Menurut suami saya, rasa jamur tiram goreng yang telah direbus agak mendekati rasa daging ayam walau teksturnya agak kenyal. Tetapi menurut saya, rasa dari jamur ini berbeda dari daging ayam. Jamur ini memiliki rasanya sendiri apalagi after taste-nya memang enak. Ada rasa gurih seperti pada makanan yang digoreng.

Sotoji dengan santan dan bahan pelengkap

Tekstur jamurnya sebenarnya bisa dibilang masih alot dengan perebusan sekitar 2 menit. Tetapi lebih dari itu akan membuat tekstur soun yang direbus berbarengan akan sangat lembek. Saya sendiri kemudian mencobanya lagi dengan merebus jamurnya dahulu sekitar 1 menit baru memasukkan sounnya lalu dimasak selama kurang lebih 2 menit. Hasilnya akan memberikan ‘kaldu’ jamur yang lebih pekat dalam kuah sotonya dan tekstur jamur yang tidak terlalu alot.

Sotoji ini bisa dijadikan dasar jika kita ingin mengkresikan soto instan ini menjadi jenis soto lain. Misalnya jika kita ingin mencoba soto Bandung tinggal ditambahkan potongan rebusan lobak dan kacang kedelai goreng. Atau jika ingin menikmati sroto Sukaraja, bisa ditambahkan tauge pendek yang telah direbus, kerupuk bawang putih warna warni dan sambal kacang.

Ingin menjadikan Sotoji menjadi soto bersantan? Tidak ada salahnya juga, saya sudah mencoba. Tambahkan sekitar 1 sdm santan instan ke dalam kuahnya saat perebusan. Rasanya dijamin lebih gurih dan sedap

Porsi Sotoji sendiri sebenarnya cukup untuk berdua jika dinikmati sebagai lauk pendamping nasi. Tetapi saya pribadi lebih suka menikmatinya sendiri tanpa nasi karena porsi sounnya cukup mengenyangkan dan jamur tiram gorengnya juga berlimpah.

Informasi di Kemasan

Kemasan Sotoji

Dari segi rasa dan porsi, Sotoji memang hampir tidak punya kelemahan. Tetapi kalau mencermati kemasannya, ada beberapa poin yang ingin saya bahas. Kendati saya sebenarnya tidak tahu persis persyaratan informasi yang harus tercetak dalam kemasan jika belum mendapatkan SNI.

Sotoji adalah produk industri kecil dengan potensi cukup besar. Sertifikasinya yang masih P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga)Β  menjadi langkah awal yang menjamin bahwa produk ini telah diakui oleh Departemen Kesehatan RI. Tetapi dalam pencantuman logo halal MUI sayangnya Sotoji tidak mencantumkan 14 digit kode register yang dapat menjamin keabsahan logo tersebut.

Walau mungkin tidak banyak orang yang membaca atau menganggap penting informasi nilai gizi yang biasanya dicantumkan di bagian belakang kemasan, saya akan sedikit menyinggung soal ini.

Dengan tagline Sotoji ‘Tinggi kandungan serat dan protein nabati’, sebenarnya informasi nilai gizi yang dicantumkan Sotoji agak kurang informatif. Dalam informasi tersebut tidak dicantumkan berapa banyak serat yang terkandung dalam 70gram Sotoji. Walau disebutkan Wikipedia, jamur tiram tinggi akan kandungan serat.

Sekilas membaca informasi nilai gizi di kemasan Sotoji tersebut, asumsi saya pribadi, persen-persen yang tertera adalah jumlah kandungan nilai gizi dari 70gram takaran per saji. Misalnya disebutkan, Protein 3 % artinya satu bungkus sajian Sotoji mengandung 3% protein atau 2,1gram. Dan jika dibandingkan dengan lemak yang 6% atau 4,2gram apakah artinya Sotoji juga tinggi akan lemak? #Eaa tetapi lemak tidak selalu berarti negatif kok.

Sepengetahuan saya (bisa jadi saya salah) informasi nilai gizi yang biasanya dicantumkan dalam kemasan produk pangan adalah jumlah gizi dalam satuan gram (dari per sajian) dan %AKG (angka kecukupan gizi) yang dihitung berdasarkan kebutuhan energi. Tetapi terlalu teknis ah kalau dibahas

Seperti yang saya bilang lagi, untuk sebagian orang bahkan untuk saya, informasi nilai gizi kadang ngga penting. Yang penting adalah rasanya enak dan porsinya memuaskan.

Selain informasi nilai gizi yang ingin saya ulas adalah komposisi yang tertulis. Komposisi yang dimaksud di kemasan Sotoji lebih merujuk pada isi yang berada dalam kemasan: soun, jamur tiram goreng, bumbu, cabai bubuk dan minyak soto.

Komposisi atau bahan biasanya adalah salah satu yang diperhatikan konsumen jika membeli sebuah produk baru. Terbuat dari apakah sounnya? Apakah bumbunya mengandung MSG ? Apakah ada pewarna buatan atau pengawet buatan? Apakah mengandung bahan-bahan yang mungkin haram? Dan lain-lain. Tetapi informasi itu tidak tertera di kemasan Sotoji.

Oia juga dalam ilustrasi cara memasak, di bagian terakhir tampak ilustrasi Sotoji siap santap dengan bahan pelengkap telur dan tomat(kah?). Sebenarnya ilustrasi seperti itu tidak perlu karena bahan pelengkap tersebut tidak ada dalam kemasan Sotoji tetapi mungkin bisa ditambahkan kata-kata β€˜Saran Penyajian’ di bawahnya atau di bagian depan di mangkok sajian (bukan di bawah no izin).

Waduh panjang lebar dan mungkin agak terdengar sok tahu ya?

Tapi pada akhirnya menurut saya Sotoji adalah potensi besar dan bisa berkembang. Jamur tiram dijadikan soto? Siapaa yang pernah memikirkannya! Ide brilian dengan konsep yang sangat menarik.

ps. Terima kasih Sotoji untuk sample gratisnya ya.

Categories

22 Comments

Add yours
    • 7
      hes

      Saat ini sepertinya pembeliannya masih online. Keterangan lengkap ada di Sotoji.com. Kalau tidak salah ada juga di beberapa minimarket lokal di Bogor.

      Terima kasih πŸ™‚

  1. 8
    Diah

    Postingan yang bernas, lengkap dan ‘bergizi’ πŸ˜‰ Suka dehbaca review-nya mbak Hesti. Bisa jadi referensi produk untuk periode belanja selanjutnya. (Nunggu review produk berikutnya ;))

  2. 10
    Berita Terbaru

    saya cuma mengingatkan agar berhati-hati dengan SOTOJI karena dapat menyebabkan kanker. kenapa? pengalaman saya makan satu pingin nambah lagi, ketagihan lezatnya. awas bikin kanker alias kantong kering hehe.

    oia salam kenal sesama peserta. ditunggu kunjungan dan komentarnya. terimakasih

  3. 22
    Electro Lifes

    hmmmm…ini toh sotoji yg lagi dgandrungi itu, jadi pengen coba πŸ˜€ …dan kabarnya juga yang punya usaha seorang blogger? klo memang iya, wah…wah…jurus marketing dan netpreneur-nya benar-banar diaplikasikan. Mantaps! Mesti dcontek nih jurusnya ^^

+ Leave a Comment

8 + eleven =